700 Ribu Demi Kenyamanan: Upgrade Kabel ATH-E40 ke VJC LAM
Tiga tahun menahan sabar dengan kabel stok ATH-E40 yang super kaku, akhirnya nekat tebus kabel VJC LAM. Upgrade yang mahal, tapi sepadan—plus sedikit drama kesetrum.

Setelah kurang lebih tiga tahun bertahan, akhirnya pertahanan saya jebol juga. Kabel bawaan (stok) dari Audio-Technica ATH-E40 ini memang legendaris—legendaris kakunya. Dipakai lama bikin telinga lelah, dan microphonics-nya kadang lumayan mengganggu. Jadi, saya memutuskan untuk memensiunkan kabel stok tersebut.
Tapi, perjuangan nyari kabel penggantinya ternyata nggak gampang. ATH-E40 ini pakai konektor tipe A2DC. Di tahun 2026 ini, nyari kabel aftermarket dengan pin A2DC itu susahnya minta ampun—udah masuk kategori barang langka. Saking pusingnya, saya sempat lempar pertanyaan di grup "Tongkrongan Audio Indonesia" (yang punya singkatan nyeleneh: TAI). Beberapa member di sana menyarankan beli kabel mass-produced seperti merek Xinhs atau Yongse. Sayangnya, opsi pabrikan itu mentok karena mereka nggak menyediakan pin A2DC dan nggak terima custom.

Karena mentok sana-sini, ingatan saya akhirnya melayang ke satu builder custom cable lokal: VJC alias Van Jan Cook. Saya langsung kontak beliau, dan untungnya bisa! Akhirnya sepakat buat ngerakit seri VJC LAM yang di-custom khusus dengan pin A2DC.

Harganya? Sekitar 700 ribuan. Buat saya pribadi, ngeluarin duit segitu "cuma" buat seutas kabel itu masuk kategori mahal dan lumayan bikin kantong meringis. Tapi ternyata, ada harga ada rupa.
Alasan utama saya nekat upgrade ini murni untuk ngejar kenyamanan fisik. Dan di sektor itu, kabel VJC LAM menang telak. Lentur, enak dipakai daily, dan bikin ATH-E40 yang bentuknya lumayan bulky itu jadi jauh lebih bersahabat di kuping.
Plot twist-nya ada di sektor suara. Saya awalnya nggak terlalu muluk-muluk berharap perubahan ekstrem dari sekadar ganti kabel. Tapi VJC LAM ini bener-bener ngasih improvement yang luar biasa di sisi teknikalitas dibanding kabel bawaan. Suara jadi lebih rapi dan detailnya makin keluar. Memang sih, ada trade-off—kuantitas bass-nya jadi sedikit berkurang, nggak se-nendang pas pakai kabel stok. Tapi buat telinga saya, kompromi ini masih sangat bisa diterima dan totally worth it.
Tapi... cerita ini nggak akan seru kalau nggak ada dramanya.
Setup saya sehari-hari adalah nyolok IEM ini ke audio interface M-Audio M-Track Solo yang tersambung ke PC, terutama pas lagi asyik grinding santai di Zenless Zone Zero atau nyari hiburan pas lagi kerja. Nah, masalahnya, grounding listrik di rumah saya ini jelek banget. Karena kabel VJC LAM ini punya aksen besi/silver di area dekat pin dan jack-nya, tebak apa yang terjadi tiap kali jari saya nggak sengaja nyentuh bagian itu? Kesetrum tipis. Lumayan ngagetin.

Solusi sementaranya? Sangat engineer-mindset: saya lilit area besi itu pakai isolasi hitam anti-listrik.
Secara estetika? Jelas looks-nya langsung downgrade. Kabel mahal-mahal malah kelihatan kayak kabel tambalan darurat. Tapi secara fungsional? Aman sentosa. Nggak ada lagi drama kesetrum, dan kenyamanan pakainya sama sekali nggak berkurang.


Kesimpulannya: VJC LAM sukses bikin ATH-E40 saya jadi IEM yang makin susah buat dilepas. Meski sekarang wujudnya pakai "plester" isolasi listrik, telinga saya telanjur dimanjakan.